Judul: Diary Dangdut
Penulis: Ikke Nurjanah
Tebal: 196 halaman
Terbit: Agustus 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Puluhan tahun berkiprah di jagat musik dangdut tak membuat Ikke Nurjanah terlena dan berhenti berkarya. Selain bernyanyi dan terus menelurkan single baru, sarjana ekonomi manajemen ini juga menulis buku ‘Diary Dangdut.’
Jika biasanya diary bersifat pribadi, di buku ini Ikke ‘buka-bukaan’ berbagai hal tentang dirinya. Buku autobiografi ini berisi manis-getir perjalanan 25 tahun karier penyanyi kelahiran 18 Mei 1974 ini di belantika musik dangdut. Dari belum menjadi apa-apa sampai bermetamorfosis menjadi diva dangdut Indonesia.
Di antaranya, kisah ‘hadiah’ dari penonton berupa timpukan sandal, bayaran recehan di kantong kresek sehabis manggung, mencatut usia agar bisa tampil di TVRI, cerita saat ia “diculik” di Timor-Timor, kandasnya mahligai pernikahan, keuangan yang menipis hingga ajakan dan janji manis untuk terjun ke ranah politik.
Berbagai kejadian itu alih-alih membuat Ikke goyah, ia malah bersikeras untuk tetap berada di jalur itu dan berupaya untuk memajukan industri dangdut. Bahkan ia punya obsesi agar dangdut go internasional. Ia sendiri sempat pentas dan mengajar di sebuah universitas di Amerika dan pernah tampil di Asia Live Dream pada 1998 atas undangan stasiun televisi NHK Jepang.
Dari ratusan lagu dan puluhan album, Ikke telah menorehkan banyak prestasi dan meraih berbagai penghargaan. Di antaranya, Anugerah Musik Indonesia (AMI) untuk kategori penyanyi dangdut wanita terbaik selama tiga tahun berturut-turut (1997, 1998, 1999).
Ia juga didaulat sebagai Penyanyi Dangdut Paling Ngetop SCTV 2002. Pada 2005, Anugerah Dangdut TPI menghadiahkan Piala Suling Emas atas prestasinya sebagai Penyanyi Wanita Tersohor, mengalahkan seniornya Elvie Sukaesih.
Bagi Ikke, penghargaan adalah bonus dalam berkarya. Apresiasi positif untuk memajukan dangdut Indonesia. Penghargaan itu, lanjutnya, spirit dan penyemangat agar pendangdut tak berhenti berkarya dan terus memberikan yang terbaik.
Penyanyi dengan nama asli Ikke Hartini Erpi Nurjanah ini bahkan lebih bangga jika pendangdut muda yang mendapatkan penghargaaan. Itu bukti bahwa dangdut tetap eksis di negeri ini. Ia berharap para penerusnya bisa lebih baik dari yang sekarang. Dangdut punya penerus yang cemerlang dan gemilang.
“Penghargaan bisa memotivasi musisi dangdut muda supaya lebih giat berkarya. Yang penting berkarya total dan maksimal serta melakukan yang terbaik dan terus menjadi lebih baik. Kalau tidak lebih baik sama halnya dengan menyakiti hati saya,” tandas pemain sinetron Kampung Dangdut (2006) ini.
Musik bagian tak terpisahkan dalam hidup Ikke. Sulung dari empat bersaudara ini tumbuh dalam lingkungan seni. Ayahnya, Abdul Pihar Tanjung, seorang pemain biola irama musik Melayu. Tapi dangdut yang paling melekat dalam darahnya kini.
Menjadi penyanyi dangdut seperti panggilan hidupnya. Sebagai pendangdut, Ikke ingin berbagi pengalaman kepada masyarakat sekaligus untuk mereka yang ingin/sedang meniti karier di dunia musik. Dalam buku ini Ikke menyelipkan motivasi, inspirasi, dan kiat bagi para pendatang baru di dunia musik, khususnya dangdut.
Buku ini sebenarnya pernah Ikke rilis pada Mei 2012 bersamaan dengan peluncuran single “Lelaki Pemalu” dan bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-38. Untuk menjangkau lebih banyak pembaca, buku ini diterbitkan kembali Gramedia Pustaka Utama. Peluncurannya bahkan diselenggarakan di Gedung Nusantara IV DPR/MPR pada November 2014 lalu.
Buku ini ditulis dengan renyah dan enak dibaca. Bisa dibaca siapapun, baik para pencinta dangdut, penggemar setia Ikke maupun masyarakat umum yang ingin mengenalnya lebih dekat lewat karya ini.
Buku ini Ikke tulis sebagai bentuk kecintaannya terhadap dangdut. Cinta Ikke pada dangdut seperti dalam lagu: ‘Biru Putih Cintaku.’ Seputih salju dan sedalam laut biru.
Tak banyak pendangdut yang mengabadikan lintasan sejarah dangdut dan berbagi kisahnya dalam sebuah buku. Apalagi buku bertajuk ‘Diary Dangdut’ ini ia tulis sendiri selama kurang lebih dua tahun dan melalui berkali-kali proses revisi.
Buku ini menandai suatu fase perjalanan sejarah musik dangdut melalui kacamata Ikke. Lewat berbagai karya lagunya dan buku ini Ikke berharap dangdut diapresiasi sebagai musik asli Indonesia. Ia juga berharap musik dangdut bisa diterima di kalangan mana pun di negeri ini, bahkan go international.***(ark, foto: gramediapustakautama.com)



