Kenapa Disebut Dangdut Koplo?

“Cintaku klepek-klepek sama dia..sayangku klepek-klepek sama dia

Beginilah sedang mabuk cinta..siang malam terbayang wajahnya”.

Alunan lagu dangdut terdengar nyaring dari ujung jalan di sudut pasar tradisional di dekat stasiun Depok. Lagu yang sedang hits dilantunkan oleh Hesty, artis pendatang baru yang berhasil melejit dengan lagu “Klepek-klepek” andalannya.

Lagu dangdut, tak terbantahkan, dari dulu sampai saat ini masih tetap eksis. Meskipun telah mengalami banyak transformasi dari dangdut tradisional, dangdut tetap dangdut. Kita bisa membedakan mana lagu dangdut dan mana lagu non-dangdut. Bahkan, istilah dangdut tradisional sesungguhnya tidak tepat. Apakah dangdut itu tradisional atau modern susah untuk membedakan.

Heru Prasetia tahun 2012 pernah menulis di Jurnal Srinthil sebagai berikut:

“Dangdut dikenal sebagai musik yang khas Indonesia, bukan musik pop namun juga bukan musik tradisional. Alat musik yang dipakai mewakili keduanya. Alat-alat modern dan tradisional. Secara kultural, dangdut konon berakar pada irama melayu dan gambus namun dalam perkembangannya ia juga menyerap unsur-insir musik Barat…dangdut sendiri sudah merupakan campuran dari berbagai unsur musik seperti India, Melayu, dan rock, maka musik dangdut koplo menjadi semacam hibridnya musik hibrid.”

Peneliti antropologis, Jeremy Wallach, pernah meneliti mengenai musik dangdut tahun 2002. Ia mengatakan bahwa musik dangdut sering diidentifikasikan sebagai musik kampungan, posisinya sebagai sub-ordinate dibanding dengan musik Barat atau Pop. Hal itu karena dangdut sering mempertontonkan hal-hal vulgar, dinikmati oleh kalangan masyarakat rendah, dan bukan merupakan musik yang dapat dijadikan gengsi. Ia menulis:

“The most prevalent and injurious epithet used to derogate dangdut music is kampungan, a culturally loaded term which can be loosely
translated as “vulgar, low-class, and repellently characteristic of backward village life,” or in James Siege’s words, “hickish.” Thus dangdut is always subordinate to the more Westernized and middle-class-oriented pop Indonesia and can never be a source of gengsi.”

Meskipun dalam beberapa hal pendapat-pendapat di atas mendapat pembenaran dari realitas yang ada, tetapi sesungguhnya jawaban dari pertanyaan: kenapa musik dangdut sampai saat ini bisa tetap eksis, bukan itu jawabannya.

Pandangan mengenai Dangdut sebagai musik kelas bawah sama halnya dengan musik rap yang pada awalnya sering diidentikkan sebagai “Musik kelas bawah” di dunia Barat, bahkan identik dengan musik “pemberontakan” dan keberadaannya selalu identik dengan masyarakat kulit hitam. Namun, hingga kini musik rap bahkan makin eksis. Iggy Azalea, artis ternama masa kini, rapper perempuan kulit putih asal Australia, justru melejit menjadi artis papan atas. Ia bersanding dengan penyanyi Ariana Grande, Charlie XCX, bahkan berduet dengan Madonna.

Kata kunci masyarakat bawah mungkin ada benarnya, tetapi intinya bukan pada kelas masyarakatnya, tetapi pada selera kelas bawah. Apa itu selera kelas bawah? Selera yang simpel. Musik yang simpel adalah musik yang gampang dicerna dan bisa membuat pendengarnya langsung happy dan menggoyangkan badan. Musik rap gampang dicerna tak usah kita mengerti apa itu jenis musiknya tetapi ketika mendengar musik rap..yo..yo..yo check it out..kaki langsung bergoyang. Asyik kan?

Hidup sudah susah, stress, masa iya untuk musik harus yang susah juga. Yang simpel-simpel saja. Kurang lebih begitu alasannya.

Begitu juga dengan musik dangdut. Tak usah tahu seluk-beluk musik, ketika kita mendengar musik dangdut, kaki langsung bergoyang dan ada perasaan menghentak-hentak yang membuat pendengarnya ingin berjoget. Beda dengan musik Jazz misalnya, untuk bisa menikmati musik jazz seorang pendengar harus memiliki prakonsep terlebih dahulu mengenai apa itu musik jazz, penyanyi jazz, dan segala macam mengenai musik jazz. Tanpa itu tak mungkin suka terhadap musik jazz.

Begitu juga dengan musik House yang menghentak dan mendentum dengan musik bass yang bertalu-talu. Mudah untuk dicerna sehingga sering dijadikan sebagai musik pelipur lara di bar-bar atau tempat hiburan modern.

Apa jadinya jika dangdut bercampur dengan musik house? Wow dahsyat..dangdut yang sudah simpel untuk didengar dan mudah membuat orang bergoyang ditambah dengan hal serupa dari musik house. Double power: benar-benar musik pelipur lara dan makin sip untuk berjoget ria.

Lagu-lagu seperti yang didendangkan Hesty lewat lagu Klepek-klepek, Cita Citata dengan lagu Goyang Dumang, dan musik dangdut lainnya umumnya mengusung tema tersebut: dangdut plus musik house. Jenis musik ini kemudian diidentifikasi dengan “Dangdut Koplo”. Kenapa disebut koplo? Karena ketika mendengarnya akan terasa mabuk kepayang. Ya itu tadi, dangdut plus house music siapa yang akan tahan untuk tidak goyang. Tarik maaang..!”**[hs, foto: nagaswara.co.id]

[radium_embed_video title=”” link=”https://www.youtube.com/watch?v=YN7nQCgHBtk#t=23″ size=”” fullwidth=”yes” lightbox=”no” thumbnail=””]