Oleh Denny Sakrie*
Di mana-mana di atas dunia
Banyak orang bermain musik
Bermacam-macam warna jenis musik
Dari pop sampai yang klasik
Bagi pemusik yang anti Melayu
Boleh benci, jangan mengganggu
Biarkan kami mendendangkan lagu
Lagu kami lagu Melayu
Deretan larik dari lagu bertajuk “Musik” dari soundtrack film “Gitar Tua Oma Irama” (Sjam Studio, 1977) ini bagaikan refleksi eksistensi musik dangdut yang dititahkan raja dangdut yang tak pernah turun tahta: Rhoma Irama.
Musik dangdut, istilah yang sebetulnya dimaksud ngenyek, pada akhirnya memang menjadi musik khalayak. Musik rakyat dalam arti sesungguhnya. Musik dangdut yang bermuasal dari pakem musik Melayu dengan imbuhan berbagi kecenderungan musik lain –musik India, Timur Tengah hingga rock maupun blues, di tangan Oma Irama, yang kemudian mengubah nama jadi Rhoma Irama, menjadi musik hibrida baru dengan baju dangdut, yang tak terbantahkan menjadi sebuah genre musik.
Dangdut bisa sejajar dengan reggae dari Jamaika. Anasir musiknya berakar dari irama ska serta pengaruh R&B New Orleans, dan oleh Bob Marley disuntikkan berbagai kecenderungan musik western seperti rock psychedelia. Bob Marley hampir sama dengan Rhoma Irama: musik yang dimainkannya tak lagi sekadar struktur bunyi-bunyian yang menghibur tapi sudah merambah zona lain seperti gerakan moral, agama, dan politik.
Hal serupa pun terlihat pada sosok Bob Dylan yang berakar dari musik Americana, meliputi country, folk, blues, dan sejumput rock. Dengan larik-larik yang kemudian dikenal sebagai protest song, lelaki Yahudi ini menjadi juru bicara generasi terhadap ketimpangan sosial dan kebobrokan mesin politik.
Muatan-muatan seperti inilah yang menjadikan sosok Rhoma Irama bukan lagi superstar yang berjubah arogansi dan segala perilaku rekayasa, seperti yang kerap kali diperlihatkan pemusik pop dan rock kita yang menyadap habis perilaku superstar di belahan Barat sana, tanpa memahami esensi yang sesungguhnya.
Rhoma Irama tak hanya menawarkan goyang dangdut atau joget belaka, seperti pada lagu “Joget” maupun “Dangdut”: yang kemudian lebih popular dengan tajuk “Terajana”:
Sulingnya suling bambu
Gendangnya kulit lembu
Dangdut suara gendang
Rasa ingin berdendang
Rhoma Irama tak hanya membius penggemarnya dengan lagu-lagu romansa seperti “Kegagalan Cinta” atau kegenitan atmosfer insan yang tengah kepayang seperti dalam lagu “Tung Keripit”:
Tung keripit hai si tulang bawang
Kalau pacar yang gigit sakit tak mau hilang
Rhoma Irama juga menyebarkan pesan moral dalam sederet lagu-lagunya semisal “Begadang”, “Darah Muda” maupun “Rupiah” yang entah kenapa sempat dicekal TVRI pada dasawarsa 1970-an:
Memang sungguh luar biasa
Itu pengaruhnya rupiah
Sering karena rupiah
Jadi pertumpahan darah
Sering karena rupiah
Saudara jadi pecah
Memang karena rupiah
Orang menjadi megah
Kalau tidak ada rupiah
Orang menjadi susah
Hidup memang perlu rupiah
Tetapi bukan segalanya
Silakan mencari rupiah
Asal jangan halalkan cara
Lihat pula bagaimana Rhoma Irama menyuarakan anti segala bentuk perjudian:
Judi! Menjanjikan kemenangan
Judi! Menjanjikan kekayaan
Bohong! Bila engkau menang,
Itu awal dari kekalahan
Bohong! Bila engkau kaya itu awal dari kemsikinan
Dari segi syair, Rhoma Irama pun mengubah kecenderungan pemaparan tema. Dia berubah menjadi bijak dengan pelbagai petuah moralitas. Hal ini diungkap pula oleh peneliti asal Amerika serikat, William H. Frederick, dalam tesis bertajuk “Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture” (1982):
“Since much of Omas songwriting was leading inescapably toward both storytelling and moralizing, he was naturally intrigued with the notion of integrating story line more closely with the music, and making of the whole something more ‘serious’.”
Tak heran jika Rhoma Irama dengan mudah merangkul khalayak. Dia menjadi sosok panutan umat. Rhoma bagaikan trubadur yang bertutur lewat dendang lagu tentang apa saja.
Puncak pencapaian Rhoma dalam berkarya adalah ketika dia memproklamirkan “Sound of Moslem”. Larik-larik yang diguratnya pun mulai menyelusup ke zona religi.
Simaklah keprihatinan Rhoma terhadap nilai keimanan muslim di abad modern dalam lagu bertajuk “Koran dan Qur’an”:
Kalau bicara tentang dunia, aduhai pandai sekali
Tapi kalau bicara agama, mereka jadi alergi
Membaca koran jadi kebutuhan
Sedang Al-Quran cuma perhiasan
Rhoma Irama pada akhirnya mengingatkan kita pada Sunan Kalijaga yang menggunakan anasir seni untuk tujuan dakwah Islam. Dan kita pun mafhum jika menyimak barisan larik-larik yang lantang dilantunkannya, Rhoma Irama memang berdakwah lewat musik.
Seiring dengan pergeseran maupun perubahan dari kerangka tema lagu-lagunya seperti yang saya paparkan di atas, Rhoma Irama pun giat melakukan eksplorasi dalam membentuk warna musiknya. Terutama perjuangan untuk memodifikasi bahwa dangdut tak sekadar liukan seruling berimbuh tabuhan kendang belaka. Seperti genre musik lain, Jazz misalnya, dangdut pun toleran terhadap suntikan genre musik lain. Rhoma pun melakukan banyak persilangan. Sebuah cross-over yang memperkaya anasir musik dangdut sendiri.
Rhoma Irama ibarat maestro jazz Miles Davis yang tak pernah mengenal titik dalam pergumulan musiknya. Dia terus mencari dan mencari. Lalu membuat fusi yang menjadikan musiknya kian kontemporer.
Miles Davis melumuri musiknya dengan darah rock yang segar, karena jazz saat itu kurang memikat perhatian anak muda. Hal serupa dilakukan Rhoma Irama dengan mengadopsi geletar rock dari kelompok hard rock Inggris, mulai dari Deep Purple hingga Uriah Heep. Karakter gitar Richie Blackmore dari Deep Purple yang sering memuntahkan high pitch note dan tone bending pun diserapnya. Pengaruh solo gitar Richie Blackmore dalam interlude “Child in Time” atau lengkingan suara vokalis Ian Gillan bisa ditemui dalam karya-karya Rhoma Irama di paruh 1970-an. Bahkan dalam lagu “Santai” (1977), Rhoma pun menyusupkan atmosfer musik funk seperti yang dimainkan James Gang dalam lagu “Kick Back Man” (1972).
Uniknya, formula dangdut rock yang diracik Rhoma justru diikuti Achmad Albar, vokalis God Bless yang membuat album dangdut bertajuk “Zakia” (1979) dengan musik yang ditata oleh gitaris Ian Antono. Termasuk Reynold Panggabean dari The Mercy’s yang membentuk kelompok dangdut rock bernama “Tarantulla” yang juga banyak menyusupkan pola permainan gitar ala Richie BlacKmore melalui Fadil Usman, gitaris rock yang pernah tergabung dalam The Minstrels hingga Brotherhood.
Sejak kecil Rhoma telah menyimak beraneka ragam musik. Dia tekun menyimak lantunan vokal penyanyi legendaris India Lata Mangeskhar, yang kerap menyanyikan lagu-lagu dari soundtrack film India yang ditulis oleh komposer Laxmikant Shantaram Kuldakar dan Pyarelal Rampasad Sharma sertal Rahul Dev Burman dan Sachin Dev Burman. Dia juga menyimak lagu-lagu Timur Tengah yang didendangkan Umi Khalsoum.
Awal karir bermusiknya justru pada musik pop dengan iringan Zaenal Combo maupun The Galaxy yang dikomandani Jopie Item. Dia pun pernah bergabung dalam berbagai band seperti Gayhand, Tornado, dan Varia Irama Melody membawakan lagu-lagu pop milik golden singer Tom Jones, Enggelbert Humperdink, Paul Anka hingga Andy Williams.
Aransemen musik Soneta Group pun kerap mengalami pergeseran. Bisa dicatat misalnya pada paruh 80-an, Rhoma memasukkan elemen brass section yang terdiri atas saxophone dan trumpet. Bahkan instrumen timpani yang lazimnya hanya dipergunakan dalam orkestra pun merupakan bagian dari tata instrumen termasuk pula perkusi elektronik yang saat itu menjadi bagian gerakan musik synth-pop atau new wave.
Upaya Rhoma memodernisir wajah Soneta memang berbuah hasil. Dangdut tak lagi dipandang sebelah mata. Dangdut telah menjadi representasi Indonesia.
Jika Bob Marley milik Jamaika. Bob Dylan milik Amerika. The Beatles milik Inggris. Maka saya tak ragu lagi mengatakan Rhoma Irama milik Indonesia.[]
*Pengamat Musik (14 Juli 1963–3 Januari 2015)
Sumber: Majalah Madina No.7/Tahun I, Juli 2008


