Bertemu Dangdut di Pittsburgh

foto: madina.co.id
foto: madina.co.id

Oleh Merlyna Lim*

Kaum intelektual sering menggunakan mereka untuk mengkritik modernitas. Padahal, lewat dangdut, dan dalam dangdut dan berdangdut, justru rakyat menemukan jati diri, ekspresi, dan aspirasi mereka serta menjadi diri mereka sendiri.

 Saya orang Indonesia, jadi tentu saya kenal dangdut. Jujur, saya bukan penggemar musik dangdut. Keluarga saya bukan penikmat dangdut, tapi karena saya lahir dan dibesarkan di Dayeuhkolot, pinggiran kota Bandung alias “Bandung coret”, secara tidak sengaja saya tumbuh bersama musik yang dulu dinamakan irama Melayu ini. Saya mendengarkan musik dangdut mengalun dari rumah tetangga saya, Wak Haji Dodo (almarhum), dari radio tukang tahu di pasar, dan dari senandung bocah-bocah kampung sekitar.

Kenal dangdut berarti juga kenal Rhoma Irama si raja dangdut. Ya, tentu saja saya tahu Bang Haji Rhoma Irama. Saya mengenalnya dari berita-berita di koran dan liputan-liputan televisi. Saya dengar lagu-lagunya dari kaset-kaset yang diputar di dalam ribuan angkot yang membawa saya pulang-pergi rumah-sekolah. Saya bahkan bisa menyanyikan beberapa lagu ciptaan beliau. Begadang, Terajana, dan Bujangan, misalnya.

Tapi apakah saya benar-benar kenal dan mengerti dangdut? Sejauh apa saya kenal Rhoma Irama?

Saya tak pernah menghadiri konser dangdut dan, tanpa pengalaman di Pittsburgh, rasanya seumur hidup saya tak akan pernah punya kesempatan menghadiri konser tokoh legendaris dangdut Rhoma Irama. Jika konser ini terjadi di Bandung, orangtua saya pasti akan melarang saya pergi. “Nggak aman… banyak tukang becak, nanti kamu dicolek-colek,” mungkin begitu kata-kata ayah saya.

Yang saya tahu, dangdut sering direpresentasikan sebagai musik “rakyat”. Dangdut dianggap mereflesikan semangat dan aspirasi rakyat, khususnya masyarakat kelas bawah –orang kecil, rakyat jelata, kaum pinggiran, golongan bawah– dan sering juga dianggap sebagai musiknya orang kampung dan mereka yang kampungan.

Saya juga mengamati bahwa dalam konteks yang lain, dangdut kadang-kadang muncul di masyarakat yang lebih atas. Dalam acara-acara resmi, pejabat-pejabat tak sungkan ikut bergoyang dangdut, kadang sebagai simbol “merakyat”. Sekali-kali penyanyi-penyanyi pop melantunkan lagu dangdut sebagai tanda bahwa mereka juga bisa “merakyat”. Bagi pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri orang, dangdut adalah salah satu simbol “keindonesiaan” seperti sambal terasi, rendang, dan Indomie. Serta merta begitu sampai di luar negeri, cinta dangdut bukan lagi hal yang kampungan.

Beberapa tahun belakangan ini, saya mulai mengamati dunia perdangdutan dengan lebih seksama. Ini dimulai sejak munculnya kontroversi seputar goyang Inul. Lewat kasus Inul, dangdut muncul dalam diskusi seputar politik dan budaya, menarik para pengamat politik/budaya, aktivis, kaum feminis, peneliti untuk mencermati fenomena ini.

Kisruh seputar RUU-APP semakin mengangkat dangdut ke tataran elite, tapi hanya dalam wacana. Dangdut sebagai musik dan bentuk ekspresi tetap berkumandang di kalangan bawah.

Seorang Rhoma Irama muncul dalam wacana ini, dan hampir selalu digambarkan sebagai wajah yang muncul dari pihak yang berusaha memerangi “kebebasan berekspresi” yang wakili oleh (goyang) Inul. “Perseteruan Inul-Rhoma Irama” menjadi simbol perang ideologis antara nilai-nilai keagamaan, pola-pola patriakal, konservatisme, dan fundamentalisme, melawan demokrasi, kebebasan individual, dan kesetaraaan gender. Seorang Rhoma Irama direduksi tokoh dangdut yang berdimensi satu = konservatif fundamentalis.

Sebuah undangan untuk menyampaikan makalah di “Konferensi Internasional Islam dan Budaya Popular di Indonesia dan Malaysia” di Universitas Pittsburgh yang dilayangkan Profesor Andrew Weintraub membawa saya ke sebuah kenyataan yang tak pernah muncul dalam imajinasi saya. Pertemuan dengan seorang Rhoma Irama. Sebuah perasaan campur-aduk yang asing dan tak dikenal mucul. Ada perasaan bangga karena saya akan bertemu seorang tokoh legenda. Tapi juga ada perasaan tak genah yang muncul, bukan karena saya bukan penganut aliran dangdut, tapi mungkin karena saya tak sanggup menepis citra (dan prasangka) seputar Bang Haji Rhoma Irama yang muncul dari label-label yang mereduksi tadi.

Malam itu, hari kedua konferensi, sebelum konser dimulai, saya masih bergumul dengan perasaan saya sendiri. Saya duduk di bangku paling depan, tepat di depan panggung, bersama Pak Ishadi SK dan Bapak Duta Besar Indonesia. Bang Haji Rhoma Irama dan kru Soneta berdiri begitu dekat. Sebuah pengalaman yang sureal. Hampir seperti mimpi. Konser dangdut pertama dalam hidup saya!

Lagu pertama, berjudul Dangdut, berlalu. “Menarik”, saya pikir, tapi saya hanya bertepuk tangan dan duduk di bangku. Lagu kedua, ketiga, saya mulai ikut bergoyang kecil di tempat duduk saya. Lagu keempat… dan beberapa pelajar Amerika mulai bergoyang, hanya empat orang.

Pak Ishadi berbisik, “Merlyna, joget yuk?” saya ragu. Masih ada rasa gengsi. Tapi tak lama kemudian saya ikut bergabung dengan Pak Ishadi dan para mahasiswa lain, membentuk gerombolan goyang pertama! Lama kelamaan, akhirnya lebih dari setengah penonton, yang tadinya duduk, bergoyang di depan panggung. Pelajar, masyarakat sekitar, pejabat, dan profesor segala bangsa, semuanya bercampur-baur dalam goyang dangdut. Semakin lama bergoyang, rasa gengsi menipis, dan akhirnya goyang itu menjadi sebuah kenikmatan. Lirik dan musik dangdut Rhoma Irama menjadi terasa lebih nikmat.

Goyang saya kali ini berbeda dari goyang-goyang dangdut yang saya luncurkan di banyak acara-acara budaya Indonesia. Bukan bergoyang ala kadarnya! Ketika konser itu berakhir, tubuh dan jiwa saya masih dilanda dangdut, masih ingin menikmati dangdut.

Malam itu saya berkenalan dengan dangdut dalam arti sebenarnya. Merasakan dangdut dalam sebuah ritual kolektif yang menciptakan dangdut moment bagi saya. “Hanya orang jaim saja yang nggak mau ikut goyang!” Momen yang membebaskan diri dari status, posisi, label, dari perasaan malu/gengsi! Momen yang membuat saya menyadari bahwa ada dangdutness dalam diri saya. Ya, dangdut yang merakyat, pinggiran, dan kampungan!

Ketika konser ini berkahir, saya mulai lupa dengan perasaan awal saya terhadap Bang Haji Rhoma Irama. Dan interaksi saya dengan beliau di belakang panggung –bersama para pembicara/moderator konferensi lainnya– membuat saya ingin mengenal tokoh dangdut ini lebih jauh. Tak sabar saya untuk menunggu beliau menyampaikan makalah di konferensi.

Keesokan harinya, Bang Haji menyampaikan makalah mengenai dakwah dan dangdut lewat perjalanan karir kelompok dangdut Soneta. Seorang tokoh legendaris dangdut, berpakaian hitam-hitam, berdiri di depan podium, di depan tokoh-tokoh intelektual. Dengan pengucapan yang sangat baik, beliau menyampaikan sepotong sejarah dangdut yang begitu menarik, dalam bahasa Inggris yang teratur. Saya terpana.

Lewat paparan sejarah yang disampaikan Bang Haji, saya belajar begitu banyak mengenai dangdut. Saya baru tahu bahwa beliau dan Soneta sempat dilarang tampil di publik selama 11 tahun. Saya juga baru menyelami bahwa setiap lagu diciptakan sebagai tanggapan terhadap berbagai fenomena sosial, budaya, politik. Saya menjadi mengerti mengapa, bagi para penggemarnya, lagu-lagu Rhoma mewakili bergabagai ekspresi yang ingin mereka ungkapkan pada kekasih, teman, orangtua, bangsa dan negara.

Dalam wacana-wacana mengenai dangdut, “rakyat” diposisikan sebagai “ketinggalan jaman”, “kampungan”, sebagai oposisi dari kemajuan dan pembangunan. Kaum intelektual sering menggunakan mereka untuk mengkritik modernitas. Padahal, lewat dangdut, dan dalam dangdut dan berdangdut, justru rakyat menemukan jati diri, ekspresi, dan aspirasi mereka serta menjadi diri mereka sendiri. Hal inilah yang saya temukan lewat perkenalan saya dengan Rhoma Irama.

Perjalanan dangdut ke Pittsburgh tidak mengonversi saya menjadi penganut musik dangdut. Tapi di Pittsburgh, saya menemukan bahwa dangdut bukanlah ruang yang homogen. Dangdut tidak monolitis. Ia bukan lambang kemunduran maupun kemajuan. Dangdut adalah ruang di mana kontradiksi sosial, budaya, dan politik bertemu. Dangdut adalah ruang di mana nilai-nilai dikontestasikan. Dangdut adalah ruang di mana hal-hal keseharian bertemu dan berbenturan. Dalam dangdut dan lewat dangdut, saya menemukan sisi kampungan saya yang membuat saya nyaman, genah, dan bebas.

Sungguh ironis 23 tahun duduk di bangku sekolah dan sebuah karir di dunia akademis untuk mempertemukan diriku secara pribadi dengan si “dangdut”.

*Peneliti dan pengajar bidang Studi Sains dan Teknologi di Arizona State University, Amerika Serikat.

Sumber: Majalah Madina No.11/Tahun I, November 2008.