Rahasia di Balik Nama “Kempot” Bapak Patah Hati Nasional

LAGULOGI – “Kempot” bukan sembarang nama. Nama itu bukan sebagai penanda pipi penyanyi yang dijuluki The Godfather of Broken Heart itu kempot. Nama itu punya arti khusus bagi Didi Kempot. Nama itu menjadi saksi jatuh-bangun hingga puncak sukses kariernya.

Penyanyi campursari asal Surakarta, Jawa Tengah ini mengawali kariernya sebagai pengamen jalanan di kota asalnya. Pada 1985, adik dari pelawak Mamiek Prakoso ini hijrah dan mengadu nasib di Jakarta.

Pelantun ‘Stasiun Balapan’ ini sudah menggunakan nama ‘Kempot’ sejak pertama rekaman di studio pada tahun 1989. Di tahun itu, ia menulis beberapa lagu pertama pertamanya. Salah satunya berjudul “Cidro” yang direkam pertama kali di Musica Studio di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan.

Pemilik nama asli Didi Prasetyo ini mengaku, ia menggunakan nama ‘Kempot’ sebagai nama belakang agar terlihat keren seperti musisi yang sohor lebih dulu seperti Iwan Fals atau Doel Sumbang.

“Nama itu (Kempot) ketemu di Jakarta, di Bundaran Slipi, di Palmerah. Karena berkelompok-kelompok dengan teman-teman, kita pakai istilah itu,” kata pelantun Pamer Bojo ini dalam program Perspektif yang tayang Metro TV (27/11) lalu.

Pria kelahiran 1966 ini menuturkan, nama “Kempot” merupakan kepanjangan dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Istilah itu dia gunakan karena dia mengawali kariernya sebagai musisi jalanan atau pengamen di trotoar bersama teman-temannya, baik di Solo maupun Jakarta.

Konon, nama adalah doa. Tapi walau masih menggunakan nama “Kempot” kini Duta Anti-Narkoba Badan Narkotika Nasional (BNN) ini telah didaulat oleh sad boy/girl atau Sobat Ambyar menjadi Bapak Patah Hati atau Godfather of Broken Heart yang lagu-lagunya tak hanya dilantunkan orangtua tapi juga anak-nak muda milenial.* (ARK)