LAGULOGI – Mungkin bagi pecinta musik Tanah Air nama Dewo Dzikrullah masih asing di telinga. Bisa jadi, mereka juga belum mendengar apa itu Saptarasa. Namun saat disebut nama Jhonny Iskandar kita akan langsung mengenalnya, musisi legendaris yang melantunkan tembang “Bukan Pengemis Cinta”.
Ya, Dewo Dzikrullah adalah putra dari penyanyi dangdut ternama itu. Namanya memang belum bisa disejajarkan dengan sang ayah. Tetapi kemampuan bermusiknya patut diperhitungkan. Bersama Saptarasa, grup musik beraliran dangdut experimental, Dewo siap menggoyang Indonesia dengan karya-karya briliannya.
Tim LAGULOGI beberapa waktu lalu berhasil menemui Dewo di kediamannya di Citeureup. Banyak hal yang dapat digali dari Dewo terutama berkenaan dengan Saptarasa dan arah musiknya. Dewo selaku vokalis menceritakan awal berdirinya Saptarasa. Menurutnya, Saptarasa dibentuk pada 2016 silam. Itu artinya sudah 4 tahun grup musik yang digawangi Dewo Dzikrullah, Erick Tegar Setianto, Ayu Novianti, Alexander Bramono dan Gemawan Geri Deyadi, meramaikan belantika musik Tanah Air
Awal pembentukan Saptarasa dipupuk dari janji yang sempat diucapkannya saat terkena sakit parah dan cukup kronis. Kala itu, Dewo harus berjuang dengan sakitnya selama 3 bulan. “Awalnya saya sakit cukup lama sekitar 3 bulan dan cukup kronis,” kata Dewo menceritakan.
Pada saat itulah dia berjanji ingin memberikan hal baru yang sama sekali belum dibuat di industri musik Tanah Air. “Waktu saya sakit lumayan parah, komplikasinya lumayan banyak, kemudian saya mikir, ‘ni kalau sembuh harus bikin sesuatu yang belum ada’, ingin membuat sesuatu yang belum dipikirkan oleh orang lain,” kata Dewo menambahkan.
Pemberian nama Saptarasa sendiri bukan asal-asalan. Sapta adalah tujuh, yang merujuk pada tangga nada; do re mi fa so la si. “Sapta itu tujuh, tujuh nada (do, re, mi, fa, so, la, si), rasa itu rasa yang dibuat dari itu (sapta),” terang Dewo.
Bersama grup musik Saptarasa, Dewo ingin memberikan warna baru musik dangdut. Selama ini, musik dangdut dikenal dengan gendang yang mendayu, terkesan rendahan, dan dekat dengan masyarakat kampung. Kehadiran Saptarasa ingin mengubah imej seperti itu semua.
Menurut Dewo, dangdut Saptarasa menggabungkan beberapa unsur musik lain seperti Psychedelic, Blues, dan Folk. Tidak lagi beraliran Melayu dan unsur India semata. “Musiknya (dangdut) itu ada Jass-nya, ada Blues-nya, Psychedelic-nya, dan Folk-nya,” kata Dewo kala itu.



