Denny Malik – Cita Cinta Indonesia

Inilah cita cinta Denny Malik untuk Indonesia.

Bekerja di belakang layar panggilan jiwa baginya. Menjadi pekerja seni ekspresi cintanya pada Indonesia.

Lama tak muncul di belantika musik dangdut, pria kelahiran 18 Februari 1963 ini kini aktif di belakang layar. Ia kembali menekuni profesi semula sebagai koreografer dan pengarah artistik demi mempopulerkan seni-budaya Indonesia di dalam dan luar negeri.

Melalui Dennny Malik Entertainment, ia bekerjasama dengan pihak swasta dan pemerintah untuk mengelar berbagai acara. Di antara pagelaran dalam negeri yang ia nakhodai: Dancing Queen, Drama Musikal “Mutiara Timur Indonesia,” Damai Bumi Dewata, Mutiara Nusantara 1 dan 2 “Puspa Ragam Kemilau Indonesia,” dan Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai).

Denny sudah makan asam garam sebagai pengarah artistik dan koreografer. Di antara acara lainnya yang ia empui: ajang Abang-None Jakarta, Miss Indonesia, Gadis Sampul, Pagelaran Budaya Banten, Festival Film Asia Pasifik, Festival Masjid Istiqlal, konser Chrisye, Asian Idol, Dewi Yull, SCTV Award, dan berbagai acara televisi lainnya.

Pada Mei 2012, ia bahkan secara khusus menyelenggarakan Pagelaran 32 Tahun “Kiprah Denny Malik.” Perhelatan ini menampilkan karya cipta seni tari Indonesia yang ia kemas secara  modern. Sebanyak 60 penari profesional membawakan 100 karya tari Denny. Dalam acara ini ia memadukan unsur musik, mode, tari, dan seni pertunjukan.

Ia juga telah berkeliling luar negeri untuk menampilkan karya-karyanya sekaligus mengenalkan seni-budaya Indonesia lewat musik dan seni tari tradisional. Di antaranya, Perancis, Jerman, Amerika Serikat, Belanda, Rusia, Australia, Laos, Singapura, Vietnam, Korea Selatan.

Di negara terakhir, ia memboyong 50 penari di penutupan Asian Games 2014. Para penari itu secara simbolis menerima bendera sebagai tanda Indonesia siap menjadi tuan rumah ajang olahraga serupa pada 2018.

Dalam berbagai pertunjukannya, Denny menampilkan berbagai tarian dan lagu tradisional Indonesia. Mulai dari Aceh, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Betawi, Bali, Papua, dan daerah lainnnya di Indonesia. Selain memadukan seni tari dan tarik suara, dalam drama musikal, ia juga memasukkan unsur seni peran.

Hampir semua karya koreografi Denny adalah perpaduan unsur tari tradisional dan modern. Nuansa musik, lagu, dan tari tradisional itu ia kemas secara kontemporer.

“Walau ditampilkan dengan konsep modern tapi tidak mengurangi muatan seni-budaya tradisionalnya. Kita jangan lupa dengan seni kita sendiri. Jangan sampai kita tidak kenal seni-budaya kita sendiri,” ujarnya.

Keturunan Kerajaan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, ini sejak muda memang sudah mengakrabi seni-budaya tradisional. Kecintaannya pada seni tradisional itu yang mewarnai berbagai karyanya.

Seperti judul lagu hit dalam albumnya Putri Impian, Cita Cinta, menjadi pekerja seni adalah ekspresi cintanya pada tanah air. Cita cinta Denny pada Indonesia.

Denny Malik, Dari Tari ke Dangdut

Sebelum kondang sebagai penyanyi, Denny tenar sebagai penari dan koreografer. Denny memulai kariernya sebagai pemain musik gamelan, penari, dan koreografer pada Swara Mahardhika, pimpinan anak presiden Indonesia pertama, Guruh Soekarnoputra. Setelah sebelumnya aktif sebagai pemain teater di Gelanggang Remaja Bulungan di akhir 1970-an.

Ia mulai merambah dunia tarik suara sebagai penyanyi pop saat Swara Mahardhika menggelar pertunjukan “Jak Jak Jak Jak Jakarta.” Guruh meminta Denny untuk menyanyikan tiga lagu sambil menari. Lagu dalam pertunjukan itu kemudian dikompilasi dalam album “Jak Jak Jak Jak Jakarta.” Delapan dari 10 di album itu ciptaan Guruh sendiri.

Dari album produksi Musica Studio’s (1989) itu, Denny melejit melalui lagu hit pop-rap “Jalan-jalan Sore” (JJS). Istilah JJS bahkan hingga kini masih populer. Di album yang diproduseri Guruh itu Denny juga menyanyikan dua lagu lain: “Jak Jak Jak Jak Jakarta” bersama Johny Lewerissa dan “Hai Becak.”

Lantaran hit, lagu JJS kemudian dimuat lagi di Album Paket Lebaran Artis-artis Musica (1991) dan Puspa Ragam karya Guruh (1998). Di album Paket Lebaran, Denny juga menyanyikan Selamat Hari Lebaran bersama Betharia Sonatha, Puput Novel, dan Yani Libels. Kesuksesan JJS membuat Denny dipercaya Musica membuat album Putri Impian (1993). Kendati kurang meledak di pasaran, video klip Putri Impian sempat mendapat People Choice Award dari MTV.

Mulai tahun 2000, ia kembali populer sebagai pemain sinetron dangdut Melodi Cinta (SCTV). Sinetron yang disutradari Agusti Tanjung ini berkisah tentang pasang-surut perjalanan cinta Erlangga (Denny) dan Sarmila (Helmalia Putri). Di sinetron itu ia mendendangkan beberapa lagu dangdut populer saat itu. Lantaran sinetron itu Denny dipercaya Musica untuk merilis album dangdut Asap Asmara (2002) yang berisi 11 lagu.

Setahun kemudian, Denny mendapat penghargaan Artis Dangdut Pria Terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2003. Sebagai pendatang baru di jagat dangdut, Denny sendiri terkejut saat mendapat penghargaan itu.

“Saya sangat terkejut waktu disebut mendapat penghargaan itu. Tidak terbayang saya dapat mengalahkan artis dangdut senior seperti Meggie Z,” tuturnya, takjub.

Selain menari, bernyanyi dan main sinetron, sejak muda ia juga pernah menjadi figuran di beberapa film layar lebar. Terakhir, ia kembali berakting sebagai Hamdan di film Benci Disco (2009).

Dedikasi Denny Malik

Jiwa seni memang mendarah daging dalam dirinya. Berbagai profesi seni, walau kebanyakan autodidak, ia lakoni dengan sepenuh hati. Ia mengakui bahwa suara dan aktingnya pas-pasan, namun ia melakukannya dengan totalitas.

“Nyanyi dangdut dan main sinetron/film itu asal nekat. Yang penting saya suka dan mau. Mau belajar dan fokus. Yang penting hati dan jiwa kita. Penghayatan, komit, dan fun. Ada totalitas,” katanya saat bincang-bincang dengan Melly Manahutu di acara Indolawas DFM, 6 Februari 2015 lalu.

Denny memang terkenal sebagai orang yang fokus dan punya disiplin tinggi. Hal ini diakui para juniornya yang pernah ia bimbing. Salah satunya penyanyi Melly Manuhutu. Baginya, Denny adalah mentor yang penuh dedikasi dan disiplin.

“Dulu ada yang sampai nangis-nangis diasuh Mas Denny. Setiap latihan harus maksimal. Tapi disiplin itu luar biasa hasilnya sekarang,” kata Melly dalam acara itu.

Menjadi orang belakang layar seperti panggilan jiwa bagi Denny. Ia memang senang menjadi konseptor dan pengarah artistik.

“Jiwa saya sebenarnya memang belakang layar. Itu naluri. The man behind. Saya senang nge-direct. Mengajar dan mengarahkan orang dalam pertunjukan,” imbuhnya.

Hobi dalam mengajar dan mengarahkan orang lain ini bahkan sempat membawanya menjadi guru sekolah menengah di Jakarta: SMA Negeri 28 dan 6. Belasan kelas ia ajarkan tentang penyiaran (broadcasting), seni pertunjukan, event organizer, dan muatan lokal.

Kini, selain di belakang panggung, ia telah menyiapkan beberapa lagu pop dan melayu. “Sudah jadi master. Tinggal tunggu waktunya saja,” jelasnya.***

Biografi Denny Malik

Nama: Denny Malik
Tanggal Lahir: 18 Februari 1963
Istri: Mira Natalia
Anak: Rayhan Khan Malik (laki-laki), Putu Rania (perempuan)
Profesi: Penari, koreografer, penyanyi, aktor, pemilik Denny Malik Entertainment.
Album: Puteri Impian (1993), Asap Asmara (2002)
Album Kompilasi: Jak Jak Jak Jak Jakarta (1989), Paket Lebaran Artis-artis Musica (1991), Puspa Ragam (1998).
Sinetron: Melodi Cinta (2000)
Film: Benci Disko (2009
Penghargaan: People Choice Award dari MTV untuk video klip Putri Impian, Artis Dangdut Pria Terbaik Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2003.

Sumber: LAGULOGI | Foto: viva.co.id