Rhoma Irama Gunakan Dangdut untuk Membentuk Moral Masyarakat

LAGULOGI – Raja Dangdut Rhoma Irama menuturkan musik dangdut yang ia dicetuskan dijadikan sarana untuk membentuk moralitas masyarakat. Baginya musik bukan sekedar lagu dan lirik tapi juga soal pesan moral yang harus disampaikan kepada masyarakat.

Ini Rhoma sampaikan saat diwawancarai oleh Profesor Musik dari University of Pittsburgh, Andrew N. Weintraub. Andrew sendiri sengaja mengorek informasi tentang dangdut kepada Rhoma untuk kepentingan penulisan buku yang berjudul “Dangdut: Musik, Identitas, Dan Budaya Indonesia”. Buku ini sudah terbit dan tersebar di toko-toko buku di Indonesia.

Bagi Rhoma, musik merupakan salah satu strategi dakwah yang terbilang epektif. Kemana masyarakat akan diarahkan bergantung pada penyanyinya. Karena itu perlu ada semacam harmoni yang tepat antara lirik, penjiwaan, dan aksi panggung penyanyi saat tampil agar pesan lagunya bisa sampaik dan meresap ke sanubari masyarakat.

“Saya berprinsip, musik ini harus mampu membentuk masyarakat. Kita mau bikin merah, merah. Kita mau bikin putih, putih. Untuk itu diperlukan harmoni antara lirik, penjiwaan dan performance supaya pesan kita sampaik kepada mereka,” kata Rhoma Irama saat diwawancarai oleh Andrew N. Weintraub (Dangdut: Musik, Identitas…., 2012, h. 98).

Dalam buku setebal 302 halaman itu, Andrew sebagai penulis mengakui kalau Rhoma menjadikan musik dangdut sebagai sarana dakwah untuk mengajak kepada kebaikan dan menjauhi manusia dari kemungkaran. Karena itulah, saat kasus Inul Daratista dengan “Goyang Ngebor” melanda Indonesia, Rhoma sangat perihatin. Satria Bergitar itu muncul pun di tengah arena untuk meredam aksi-aksi erotis Inul.

Kala itu, kata Andrew pemberitaan seputar Rhoma vs Inul begitu gencar dan menjadi berbincangan, baik oleh media nasional maupun internasional. “Tahun-tahun belakangan Rhoma Irama mendapat sorotan di media nasional dan Internasional karena upayanya mencekal penyanyi Inul Daratista, dan lantaran keterlibatannya dalam RUU anti-pornografi yang menyulut kemarahan kalangan feminis maupun sebagian penggemar,” tulis Andrew di dalam bukunya itu.

Selama melakukan penelitian terkait jenis musik dangdut Rhoma, Andrew memiliki kesan musik dangdut si raja dangdut itu sangat berbeda dengan musik dangdut lain. Tak heran bila masyarakat banyak menaruh minat kepada Rhoma dan Soneta ketimbang musik dangdut lainnya.

“Selam saya melakukan riset lapangan pada 2005-7, lagu Rhoma Irama lebih sering dibawakan di pentas-pentas dangdut, maupun siaran radio atau televisi, daripada karya komponis dangdut manapun,” tulis Profesor musik itu.